Universitas Harapan Bangsa menggelar Seminar Nasional bertajuk “Humanizing Care in Clinical Practice” di Aula Gedung E, Kampus 1 UHB, Kamis, 9 Juli 2026. Seminar ini membekali mahasiswa kesehatan dengan kemampuan klinis, empati, ketangguhan mental, dan profesionalisme dalam memberikan asuhan holistik serta paliatif.
Kegiatan tersebut diinisiasi oleh Program Studi S1 Keperawatan, D3 Keperawatan, dan S1 Kebidanan Fakultas Kesehatan UHB. Pelaksanaannya bekerja sama dengan MAIWP International University.
Seminar menghadirkan tiga pembicara dari Indonesia dan Malaysia. Mereka adalah Norizun Mohd Noor, M.Nurs., BNSC., RN. dari MAIWP International University, Ns. Martyarini Budi Setyawati, S.Kep., M.Kep., Ph.D. dari UHB, dan Linda Yanti, S.ST., M.Keb. dari UHB.
Jalannya seminar dipandu oleh Ns. Arni Nur Rahmawati, S.Kep., M.Kep. sebagai moderator.
Dalam pemaparannya, Norizun Mohd Noor mengangkat pentingnya kesehatan mental bagi tenaga kesehatan. Ia menegaskan bahwa tenaga kesehatan perlu memahami dan merawat dirinya sebelum memberikan pelayanan kepada pasien.
Tenaga kesehatan muda dinilai rentan mengalami stres, kecemasan, dan kelelahan mental. Kondisi tersebut dapat muncul akibat beban kerja, tekanan profesi, dan paparan terhadap penderitaan pasien.
Norizun memperkenalkan kerangka CARE sebagai panduan praktis bagi tenaga kesehatan. Kerangka tersebut meliputi mengenali emosi, mengakui batasan diri, mencari dukungan, dan melakukan perawatan diri secara rutin.
Menurutnya, kemampuan klinis perlu disertai kesadaran diri dan ketahanan mental. Keduanya membantu tenaga kesehatan tetap memberikan pelayanan berkualitas tanpa mengabaikan kesejahteraan pribadi.
Pembicara kedua, Ns. Martyarini Budi Setyawati, membahas penerapan humanizing care dalam asuhan paliatif. Ia menjelaskan bahwa asuhan paliatif bertujuan meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarga.
Asuhan paliatif tidak hanya diberikan pada tahap akhir kehidupan. Pendekatan tersebut dapat dilakukan sejak awal penyakit untuk mengurangi penderitaan pasien secara menyeluruh.
Penderitaan pasien dapat mencakup aspek fisik, psikologis, sosial, keluarga, dan spiritual. Karena itu, tenaga kesehatan perlu memahami pasien sebagai manusia seutuhnya.
Dalam praktiknya, tenaga kesehatan perlu menyapa pasien dengan baik, menjaga privasi, mendengarkan keluhan, dan menghargai nilai hidup pasien. Keluarga juga perlu dilibatkan sebagai mitra dalam proses perawatan.
Martyarini turut menjelaskan kerangka komunikasi NURSE dan SPIKES. Kerangka tersebut membantu tenaga kesehatan merespons emosi pasien dan menyampaikan kabar sulit secara terstruktur.
Ia juga mengenalkan interaksi tiga menit yang manusiawi. Tenaga kesehatan dapat menyapa pasien, menanyakan keluhan, memvalidasi emosi, menjelaskan tindakan, dan memastikan pasien mengetahui cara meminta bantuan.
Pembicara ketiga, Linda Yanti, membawakan materi tentang empati dan profesionalisme dalam asuhan holistik. Ia menekankan bahwa kemampuan teknis bukan satu satunya ukuran kualitas tenaga kesehatan.
Pasien juga membutuhkan rasa aman, perhatian, dan komunikasi yang jelas. Hal sederhana seperti menyebut nama pasien, menjaga kontak mata, dan menjelaskan tindakan dapat membangun kepercayaan.
Linda menambahkan bahwa profesionalisme tercermin melalui kedisiplinan, integritas, perlindungan privasi, serta komunikasi antarprofesi. Pelayanan kesehatan yang baik merupakan perpaduan antara pengetahuan, keterampilan klinis, dan kepedulian.
Rektor UHB, Assoc. Prof. Dr. Yuris Tri Naili, S.H., KN., M.H., menilai seminar tersebut penting bagi pembentukan karakter tenaga kesehatan.
“Tenaga kesehatan harus memiliki kemampuan klinis yang kuat, tetapi tetap mampu memahami perasaan dan martabat pasien. Empati dan profesionalisme harus tumbuh bersama sejak masa pendidikan,” kata Yuris.
Kepala Lembaga Pemasaran dan Humas UHB, Riska Nadiya Salsabela, S.E., M.Sc., menyampaikan bahwa kegiatan tersebut memperkuat kesiapan mahasiswa menghadapi dunia pelayanan kesehatan.
“Seminar ini mengingatkan bahwa pasien tidak hanya membutuhkan tindakan medis. Mereka juga ingin didengar, dihargai, dan diperlakukan secara manusiawi,” ujar Riska.
Melalui seminar nasional ini, UHB mendorong mahasiswa kesehatan untuk memadukan kompetensi akademik dengan kepedulian. Bekal tersebut diharapkan membentuk tenaga kesehatan yang tangguh, profesional, dan berorientasi pada kebutuhan pasien.