Universitas Harapan Bangsa

Gen Z Jangan Cuma Scroll, UHB Dorong Generasi Muda Berwirausaha Digital

Bagikan :

Muda berkarya, digital berdaya. Peluang tidak lagi hanya menunggu di ruang kerja, tetapi tumbuh melalui layar, kreativitas, dan kepercayaan. Semangat itu mewarnai Seminar Gen Z Go Digital yang digelar Universitas Harapan Bangsa di Aula Gedung E, Kampus 1 UHB, Sabtu, 17 Oktober 2026. Seminar tersebut membekali generasi muda dengan wawasan ekonomi digital, personal branding, kecerdasan artifisial, dan peluang usaha berbasis konten. Kegiatan dibuka Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Adisatrya Suryo Sulisto. Kehadirannya disambut Rektor UHB bersama jajaran Yayasan Pendidikan Dwi Puspita. Tiga pembicara hadir dengan perspektif berbeda namun saling melengkapi. Mereka adalah Ir. Rosyid Ridlo Al Hakim, S.Kom., S.Si., M.T., Yusuf Arinton Sasongko, dan Oktani Fungsiana, M.M.

Rektor UHB, Assoc. Prof. Dr. Yuris Tri Naili, S.H., K.N., M.H., menilai kemampuan digital harus menghasilkan nilai nyata. Mahasiswa perlu mampu mengubah pengetahuan menjadi karya, solusi, dan peluang ekonomi. “Generasi muda tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka harus mampu menjadi pencipta nilai melalui teknologi,” ujar Yuris. Menurutnya, literasi digital juga perlu berjalan bersama kemampuan membaca peluang dan keberanian berinovasi. “Kami ingin mahasiswa melihat ruang digital sebagai tempat belajar, berkolaborasi, membangun usaha, dan menciptakan manfaat bagi masyarakat,” katanya.

Dalam paparannya, Rosyid menyoroti besarnya ruang pertumbuhan ekonomi digital Indonesia. Penetrasi internet nasional telah mencapai lebih dari 80 persen penduduk. Namun, pemanfaatan teknologi digital oleh pelaku usaha masih menyisakan ruang pertumbuhan. Kondisi tersebut membuka peluang bagi Gen Z untuk menjadi pencipta usaha digital. Rosyid memperkenalkan beragam model bisnis. Pilihannya mencakup merchant, marketplace, subscription, advertising, hingga affiliate. Menurutnya, pemasaran digital harus dimulai dengan memahami kebutuhan audiens. Pelaku usaha kemudian menawarkan manfaat, memilih kanal, mengukur respons, dan melakukan evaluasi.

Pengembangan bisnis digital juga membutuhkan kolaborasi lintas kompetensi. Bidang Manajemen, Bisnis Digital, Informatika, dan Sistem Informasi dapat saling memperkuat. Kepercayaan konsumen menjadi unsur penting. Transparansi transaksi serta keamanan data perlu dijaga ketika bisnis berkembang melalui platform digital.

Perspektif berbeda disampaikan Founder Pangeran Senja, Yusuf Arinton Sasongko. Ia mengajak peserta melihat media sosial sebagai rekam jejak nilai diri. Personal branding, menurut Yusuf, tidak berhenti pada tampilan profil. Identitas digital harus memperlihatkan keunikan, kemampuan, dan konsistensi seseorang. Proses tersebut bergerak secara bertahap. Seseorang perlu dikenal, dihargai atas kemampuannya, kemudian memperoleh kepercayaan. Kepercayaan itulah yang dapat membuka proyek, kolaborasi, jaringan bisnis, hingga pendapatan. Karena itu, integritas menjadi modal penting dalam menjaga reputasi digital.

Sementara itu, Oktani Fungsiana, M.M., mengulas peluang video commerce dan affiliate sebagai pintu masuk kewirausahaan digital. Kreator dapat memperoleh komisi melalui rekomendasi produk dalam video pendek maupun sesi LIVE. Mereka juga tidak harus memiliki produk sendiri. Oktani menekankan pentingnya riset sebelum memilih produk. Kreator perlu melihat tren, reputasi penjual, permintaan pasar, dan kebutuhan audiens. Peserta kemudian dikenalkan pada struktur konten singkat. Konten dimulai dengan hook, masalah, solusi, bukti, kemudian ajakan bertindak. Kecerdasan artifisial turut diperkenalkan untuk membantu proses produksi. ChatGPT dapat mendukung penyusunan konsep dan naskah, sedangkan teknologi visual membantu pembuatan materi. Namun, performa konten tetap harus dibaca melalui data. Jumlah penonton tidak selalu berbanding lurus dengan transaksi.

Pjs. Kepala Lembaga Pemasaran dan Humas UHB, Aldhila Sispaka Putra, S.E., melihat kegiatan ini sebagai penguatan kesiapan mahasiswa menghadapi ekonomi berbasis teknologi. “Ruang digital memberikan kesempatan yang sangat demokratis. Mahasiswa dapat membangun reputasi, jejaring, bahkan usaha sejak masih berada di bangku kuliah,” kata Aldhila. Ia menilai perguruan tinggi perlu membantu mahasiswa memahami teknologi sekaligus menggunakannya secara produktif. “Yang ingin dibangun bukan budaya mengejar viralitas, tetapi kemampuan menciptakan nilai, menjaga kredibilitas, dan membaca peluang secara berkelanjutan,” ujarnya.

Semangat tersebut menempatkan pendidikan digital sebagai bagian dari penguatan kualitas sumber daya manusia. Pada saat yang sama, keterampilan tersebut dapat membuka akses terhadap pekerjaan dan kewirausahaan. Arah itu beririsan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Perserikatan Bangsa Bangsa. Khususnya pendidikan berkualitas, pekerjaan layak, pertumbuhan ekonomi, serta inovasi. Melalui Gen Z Go Digital, UHB mendorong mahasiswa bergerak melampaui posisi sebagai konsumen teknologi. Mereka diarahkan menjadi talenta adaptif yang mampu berkarya, membangun kepercayaan, dan menciptakan nilai ekonomi. Ruang digital pun tidak berhenti sebagai tempat mencari perhatian. Bagi generasi muda, ruang tersebut dapat menjadi tempat mengubah gagasan menjadi karya dan karya menjadi daya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Video :