Universitas Harapan Bangsa (UHB) sukses merampungkan program hibah Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat (Kosabangsa) 2025 yang berlokasi di Desa Kebocoran, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas. Kegiatan yang berlangsung intensif sejak Juli hingga Desember 2025 ini berfokus pada implementasi teknologi tepat guna untuk mengentaskan masalah kesehatan sekaligus mendongkrak potensi ekonomi lokal melalui pertanian cerdas.

Program ini dipimpin oleh tim pelaksana yang terdiri dari Ikit Netra W., S.S.T., S.Kep., Ns. M.Kes., Dr. Ema Wahyu N., S.S.T., S.Kep., Ns. M.Kes., dan Giovanny Bangun Kristiono., S.E., M.Ak., Ak. Mereka menghadirkan dua inovasi teknologi utama sebagai solusi konkret bagi permasalahan mitra di desa. Inovasi pertama adalah aplikasi SUMEREP 2.0, sebuah perangkat lunak pengingat minum obat yang dirancang khusus untuk meningkatkan kepatuhan pasien penderita Tuberkulosis (TBC). Sementara inovasi kedua berupa teknologi SmartFruIOT, yakni sistem pencampuran nutrisi otomatis berbasis Internet of Things yang diaplikasikan pada tanaman untuk efisiensi pertanian.

Langkah ini sejalan dengan upaya global dalam memastikan kehidupan yang sehat dan sejahtera serta mendukung ketahanan pangan berkelanjutan. Tim pelaksana UHB tidak hanya menyerahkan alat, melainkan melakukan pendekatan pemberdayaan yang menyeluruh. Mereka bersinergi dengan kader Posyandu “Siwi Kusumastuti” untuk meningkatkan kapasitas penanganan TBC dan menggandeng BUMDes Berseri serta petani lokal untuk mengembangkan diversifikasi pangan berbasis melon. Kolaborasi lintas sektor ini menjadi bukti nyata bagaimana akademisi, desa, dan pemerintah dapat bekerja sama dalam memperkuat kemitraan untuk mencapai tujuan pembangunan desa.
Rektor Universitas Harapan Bangsa, Assoc. Prof. Dr. Yuris Tri Naili, S.H., KN., M.H., menegaskan bahwa program ini merupakan manifestasi dari tridarma perguruan tinggi yang berdampak langsung. Yuris menilai kehadiran teknologi di tengah masyarakat desa bukan sekadar modernisasi alat, melainkan upaya membangun kemandirian jangka panjang. Menurutnya integrasi antara kesehatan dan ekonomi dalam program Kosabangsa ini menciptakan ekosistem desa yang tangguh dan mampu beradaptasi dengan tantangan zaman.

Selama enam bulan pelaksanaan, program Kosabangsa 2025 di Desa Kebocoran telah menunjukkan hasil yang signifikan. Pengetahuan kader kesehatan mengenai penanganan TBC meningkat tajam, beriringan dengan naiknya kesadaran masyarakat akan pentingnya pemenuhan gizi. Di sisi lain, penerapan SmartFruIOT pada sektor pertanian lokal berhasil membuka peluang ekonomi baru yang lebih efisien dan menjanjikan bagi para petani. Sinergi ini diharapkan menjadi model keberlanjutan yang dapat terus berjalan secara mandiri meski masa hibah telah berakhir.