Universitas Harapan Bangsa

Seminar Nasional UHB Tegaskan Peran Preseptor dalam Keselamatan Pembelajaran Klinik

Bagikan :

Universitas Harapan Bangsa menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk Penguatan Peran Preseptor dalam Pembelajaran Klinik Berbasis Kompetensi, Keselamatan Mahasiswa dan Pasien di Lahan Praktik secara daring melalui Zoom, Rabu, 4 Februari 2026. Kegiatan ini digelar bekerja sama dengan Institusi Pendidikan, Pelatihan, dan Penelitian RSUD Ajibarang, menghadirkan para akademisi dan praktisi kesehatan untuk memperkuat mutu pembelajaran klinik yang aman, beretika, dan berorientasi pada kompetensi.

Seminar nasional ini diikuti oleh dosen, preseptor klinik, tenaga kesehatan, serta pemangku kepentingan pendidikan kesehatan dari berbagai daerah. Melalui forum ini, Universitas Harapan Bangsa menegaskan komitmennya mendorong pembelajaran klinik yang tidak hanya berfokus pada pencapaian keterampilan teknis, tetapi juga menjamin keselamatan pasien dan mahasiswa, sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals khususnya tujuan ketiga tentang kehidupan sehat dan kesejahteraan.

Dalam sesi awal, apt. Ikhwan Yuda Kusuma, M.Farm., M.Si., Ph.D., dosen Program Studi S1 Farmasi dan Profesi Apoteker UHB, mengulas pentingnya learning commitment dalam pendidikan klinik. Ia menegaskan bahwa komitmen belajar bukan sekadar kehadiran fisik di lahan praktik, melainkan keterlibatan aktif dan kesadaran berkelanjutan mahasiswa dalam proses pembelajaran. Menurutnya, preseptor memiliki peran strategis membangun budaya belajar yang mendorong refleksi, tanggung jawab profesional, serta kesiapan mahasiswa menghadapi kompleksitas praktik kesehatan nyata.

Perspektif etik dan legal disampaikan oleh dr. Igun Winarno, Sp.An-TI., FISQua., dokter spesialis anestesi RSUD Ajibarang. Ia menekankan bahwa pembelajaran klinik melibatkan pasien nyata sehingga aspek etik dan hukum harus menjadi fondasi utama. Prinsip otonomi pasien, beneficence, non-maleficence, keadilan, kejujuran, dan kerahasiaan wajib diterapkan dalam setiap bimbingan klinik. Ia juga mengingatkan bahwa mahasiswa bukan tenaga kesehatan mandiri, sehingga setiap tindakan harus berada di bawah supervisi preseptor untuk mencegah risiko hukum dan menjaga keselamatan pasien serta institusi pelayanan kesehatan.

Sementara itu, Dr. Ns. Rahmaya Nova Handayani, S.Tr.Kes., S.Kep., M.Sc., Sp.Kep.MB., M.M., Kepala Program Studi D4 Keperawatan Anestesiologi UHB, menyoroti pentingnya prinsip caring dan berpikir kritis dalam bimbingan klinik. Ia menegaskan bahwa caring bukan sikap memanjakan mahasiswa, melainkan keputusan profesional untuk hadir penuh, menciptakan lingkungan belajar yang aman, suportif, dan menantang. Melalui pertanyaan reflektif dan umpan balik terarah, preseptor dapat membentuk penalaran klinis mahasiswa yang berdampak langsung pada keselamatan pasien di masa depan.

Isu keselamatan pasien dan mahasiswa diperdalam oleh Fajar Rubiyanti, S.Kep., Ns., perawat RSUD Ajibarang. Dalam paparannya, ia menguraikan budaya keselamatan di rumah sakit yang mencakup enam sasaran keselamatan pasien, mulai dari identifikasi pasien yang benar hingga pengurangan risiko infeksi dan pasien jatuh. Ia menegaskan bahwa mahasiswa yang terlibat dalam praktik klinik harus dibiasakan mengikuti standar keselamatan dan kesehatan kerja rumah sakit sejak dini agar insiden keselamatan dapat dicegah secara sistematis.

Pendekatan pedagogis dalam pembelajaran klinik disampaikan oleh Dr. Ema Wahyu Ningrum, S.ST., S.Kep., Ns., M.Kes., Sekretaris Program Studi S1 Keperawatan UHB. Ia menjelaskan bahwa pembelajaran klinik harus berbasis kompetensi dan berpusat pada mahasiswa serta pasien. Metode seperti bedside teaching, mini clinical evaluation exercise, direct observation of procedural skills, dan structured oral case analysis dinilai efektif untuk menilai keterampilan, sikap profesional, dan penalaran klinis mahasiswa secara objektif dan berkelanjutan.

Sesi berikutnya disampaikan oleh Dr. Atun Raudotul M., S.Kep., Ns., M.Kep., Sp.Kep.Mat., Kepala Program Studi S1 Keperawatan dan Profesi Ners UHB. Ia menekankan bahwa komunikasi efektif dan asesmen yang adil merupakan dua aspek yang tidak dapat dipisahkan dalam pembelajaran klinik. Preseptor tidak hanya berperan sebagai pengawas praktik, tetapi juga role model profesional, fasilitator pembelajaran, evaluator kompetensi, sekaligus penjaga keselamatan pasien. Melalui komunikasi yang menghargai, empatik, dan asertif, serta asesmen formatif yang transparan, mahasiswa dapat berkembang menjadi tenaga kesehatan yang aman dan beretika.

Rektor Universitas Harapan Bangsa, Assoc. Prof. Dr. Yuris Tri Naili, S.H., KN., M.H., menilai seminar nasional ini sebagai bagian penting dari upaya peningkatan mutu pendidikan kesehatan. Menurutnya, kualitas layanan kesehatan di masa depan sangat ditentukan oleh kualitas pembelajaran klinik hari ini. “Preseptor memegang peran kunci dalam memastikan mahasiswa tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memahami etika, hukum, dan keselamatan pasien. Inilah investasi jangka panjang untuk mutu layanan kesehatan dan kepercayaan publik,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa komitmen Universitas Harapan Bangsa dalam menyelenggarakan forum ilmiah semacam ini sejalan dengan tanggung jawab perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. Pendidikan tenaga kesehatan yang aman dan bermutu dinilai berkontribusi langsung terhadap pencapaian tujuan pembangunan global, khususnya peningkatan kualitas hidup masyarakat melalui sistem kesehatan yang kuat dan berintegritas.

Menutup rangkaian kegiatan, panitia menyampaikan bahwa seminar nasional ini diharapkan menjadi titik awal penguatan jejaring antara institusi pendidikan dan fasilitas pelayanan kesehatan. Ke depan, Universitas Harapan Bangsa bersama RSUD Ajibarang berencana mengembangkan program peningkatan kapasitas preseptor secara berkelanjutan, termasuk pelatihan dan evaluasi pembelajaran klinik. Upaya ini diharapkan mampu melahirkan lulusan tenaga kesehatan yang kompeten, beretika, dan siap menjawab tantangan pelayanan kesehatan di tingkat lokal maupun global.

Video :