Universitas Harapan Bangsa

Riset Turun ke Desa, Tim UHB Raih Hibah Kosabangsa 2026

Bagikan :

Dari kampus lahir gagasan, di desa tumbuh ketahanan. Universitas Harapan Bangsa kembali mencatat capaian dalam pengabdian berbasis ilmu pengetahuan setelah tim dosennya berhasil menerima Hibah Kosabangsa Tahun 2026. Program tersebut mengangkat penguatan ekonomi dan gizi masyarakat Desa Dawuhan Kulon melalui kolaborasi lintas disiplin bersama Universitas Jenderal Soedirman.

Keberhasilan penerimaan hibah yang diumumkan pada 12 September 2026 itu diraih tim yang diketuai Dr. Cahyo Budi Santoso, S.E., M.Ak., dosen Program Studi S1 Akuntansi UHB. Ia didampingi dua dosen S1 Keperawatan UHB, Noor Yunida Triana, S.Kep., M.Kep. dan Noor Rochmah Ida Ayu Tresno Putri, S.Kep., Ns., M.Kep.

Tim tersebut mengusung program berjudul “Penguatan Ketahanan Ekonomi dan Gizi Desa Dawuhan Kulon Tangguh Bencana Melalui Sinergi Kelompok SENYUM dan PKK dalam Akselerasi Budidaya Lele serta Inovasi Teknologi Olahan Pangan Lokal”.

Program ini mempertemukan keilmuan akuntansi dan keperawatan dalam satu persoalan masyarakat. Penguatan kapasitas ekonomi warga berjalan beriringan dengan perhatian terhadap pemenuhan gizi keluarga. Melalui kolaborasi bersama Universitas Jenderal Soedirman, program diarahkan untuk memperkuat kemampuan masyarakat dalam mengembangkan budidaya lele. Hasil budidaya tersebut kemudian didorong menjadi produk olahan pangan lokal yang memiliki nilai tambah.

Kelompok SENYUM dan PKK menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program di tingkat masyarakat. Keterlibatan kelompok lokal diharapkan membuat inovasi tidak berhenti setelah program selesai, tetapi dapat diteruskan dan dikembangkan secara mandiri oleh warga.

Rektor Universitas Harapan Bangsa, Assoc. Prof. Dr. Yuris Tri Naili, S.H., KN., M.H., menilai keberhasilan tersebut menunjukkan pentingnya riset dan pengabdian yang berangkat dari persoalan nyata masyarakat. “Keilmuan di perguruan tinggi harus mampu hadir dan bekerja bersama masyarakat. Kolaborasi lintas bidang dalam program ini mempertemukan penguatan ekonomi, kesehatan, pangan, dan ketangguhan masyarakat dalam satu upaya yang saling mendukung,” kata Yuris.

Menurutnya, keterlibatan dosen dari disiplin akuntansi dan keperawatan juga memperlihatkan bahwa persoalan masyarakat membutuhkan pendekatan yang semakin kolaboratif. Perguruan tinggi tidak cukup menghasilkan pengetahuan, tetapi perlu mendorong pemanfaatannya untuk menciptakan dampak yang dapat dirasakan masyarakat.

Pendekatan tersebut memiliki keterkaitan dengan agenda pembangunan berkelanjutan. Penguatan usaha produktif masyarakat mendukung upaya mengurangi kerentanan ekonomi. Sementara itu, budidaya lele dan inovasi pangan lokal berpotensi memperkuat akses keluarga terhadap sumber pangan bergizi.

Langkah itu selaras dengan semangat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals, khususnya SDG 2 tentang Tanpa Kelaparan, SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, serta SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Kolaborasi antarkampus dan masyarakat juga memperkuat semangat kemitraan dalam SDG 17.

Bagi UHB, keberhasilan memperoleh Hibah Kosabangsa 2026 menjadi bagian dari upaya memperluas dampak Tridarma Perguruan Tinggi. Kampus mendorong dosen mengembangkan program yang tidak berhenti pada keluaran akademik, tetapi mampu melahirkan solusi yang dapat diterapkan.

Kolaborasi UHB, Universitas Jenderal Soedirman, serta kelompok masyarakat di Desa Dawuhan Kulon diharapkan membentuk ekosistem pemberdayaan yang berkelanjutan. Dari budidaya menuju olahan, dari pengetahuan menuju penguatan, perguruan tinggi hadir agar inovasi dapat tumbuh bersama masyarakat.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Video :