Universitas Harapan Bangsa

Inovasi Mochi Bayam Mahasiswa UHB Perkuat Ketahanan Gizi Desa Jipang

Bagikan :

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Harapan Bangsa (UHB) memperkenalkan pendekatan kreatif dalam menekan angka stunting melalui edukasi gizi berbasis inovasi pangan di Balai Desa Jipang pada Sabtu, 17 Januari 2026. Dalam kegiatan tersebut, para mahasiswa mendemonstrasikan pembuatan mochi dan whipped cream berbahan dasar bayam sebagai alternatif camilan sehat bernutrisi tinggi bagi balita dan anak-anak. Langkah ini diambil untuk mengatasi kebosanan konsumsi sayur pada anak sekaligus mengoptimalkan potensi pangan lokal yang tersedia di lingkungan desa.

Persoalan stunting atau tengkes masih menjadi tantangan serius dalam pembangunan sumber daya manusia di tingkat desa. Mahasiswa KKN UHB 2025 memandang bahwa edukasi gizi konvensional perlu diubah menjadi kegiatan yang aplikatif dan menarik bagi ibu rumah tangga. Pemilihan mochi sebagai media edukasi didasari pada teksturnya yang digemari anak-anak, sementara penambahan ekstrak bayam serta whipped cream nabati bertujuan meningkatkan asupan zat besi dan vitamin tanpa mengubah cita rasa yang disukai lidah anak.

Inisiatif ini merupakan bentuk nyata kontribusi akademisi dalam mendukung agenda besar dunia yang tertuang dalam Sustainable Development Goals (SDGs) Perserikatan Bangsa-Bangsa. Secara spesifik, program ini menyasar tujuan kedua yaitu menghilangkan kelaparan dan segala bentuk malnutrisi, serta tujuan ketiga mengenai pemastian kehidupan sehat dan kesejahteraan bagi semua usia. Dengan mengintegrasikan sains pangan ke dalam dapur rumah tangga, masyarakat diajak untuk mandiri secara gizi melalui pemanfaatan sumber daya yang ada di sekitar mereka.

Rektor Universitas Harapan Bangsa, Assoc. Prof. Dr. Yuris Tri Naili, S.H., KN., M.H., memberikan apresiasi mendalam terhadap relevansi kegiatan ini dalam konteks pengabdian masyarakat yang terukur. Menurut beliau, kegiatan di Desa Jipang ini membuktikan bahwa solusi terhadap masalah kesehatan kompleks seperti stunting dapat dimulai dari inovasi sederhana yang mudah direplikasi oleh masyarakat luas.

“Program inovasi pangan berbasis bayam ini merupakan manifestasi nyata dari hilirisasi ilmu pengetahuan yang menyentuh langsung akar rumput. Fokus utama kami bukan hanya pada transfer teknologi pangan, melainkan pada pembangunan kesadaran kolektif bahwa pemenuhan gizi berkualitas tidak harus mahal, namun memerlukan kreativitas dan keberlanjutan. Hal ini sejalan dengan komitmen universitas untuk mencetak generasi yang mampu menjadi motor penggerak perubahan dalam mencapai target kesehatan nasional,” ujar Assoc. Prof. Dr. Yuris Tri Naili.

Selama proses edukasi, para ibu yang tergabung dalam penggerak PKK Desa Jipang terlibat aktif dalam praktik pengolahan. Mereka diberikan pemahaman mengenai pentingnya diversifikasi pangan agar anak-anak tidak mengalami malnutrisi tersembunyi. Keberhasilan pengolahan bayam menjadi penganan modern ini diharapkan mampu mengubah pola konsumsi masyarakat desa menjadi lebih bervariasi dan bergizi seimbang.

Sebagai penutup rangkaian kegiatan, mahasiswa juga membagikan buku panduan resep inovasi pangan fungsional kepada perangkat desa. Langkah ini dimaksudkan agar program tidak berhenti saat masa KKN berakhir, melainkan menjadi fondasi bagi Desa Jipang untuk menjadi desa mandiri gizi. Melalui sinergi antara akademisi dan warga, pencegahan stunting di tingkat lokal diharapkan dapat berkontribusi signifikan terhadap pencapaian target penurunan prevalensi stunting nasional dan global.

Video :