Universitas Harapan Bangsa menyelenggarakan Workshop Pembimbing Klinik Mahasiswa Kesehatan bertajuk Penguatan Peran Preseptor Dalam Pembelajaran Klinik Berbasis Kompetensi di Era Transformasi Pendidikan Kesehatan di Ballroom Luminor Hotel Purwokerto, Kamis, 05 Februari 2026. Kegiatan ini menghadirkan dosen dan pembimbing klinik dari berbagai program studi kesehatan Universitas Harapan Bangsa serta mitra wahana praktik, sebagai upaya sistematis memperkuat mutu pembelajaran klinik, keselamatan mahasiswa, dan keselamatan pasien melalui model preceptorship yang terstruktur dan berbasis kompetensi.
Workshop ini diselenggarakan oleh Universitas Harapan Bangsa bekerja sama dengan Institusi Pendidikan Pelatihan dan Penelitian RSUD Ajibarang. Made Suandika, S.Kep., Ns., M.Kep., dosen Program Studi D4 Keperawatan Anestesiologi, bertindak sebagai moderator. Narasumber terdiri atas Ns. Indri Heri Susanti, S.Kep., M.Kep., Suci Khasanah, S.Kep., Ns., M.Kep., Dr. Maya Safitri, S.ST., M.Kes., Siti Haniyah, S.Kep., Ns., M.Kep., serta Dr. Atun Raudotul Ma’rifah, Ns., M.Kep., Sp.Kep.Mat.
Dalam pemaparannya, Ns. Indri Heri Susanti menegaskan bahwa preceptorship merupakan model pembelajaran klinik jangka pendek yang terstruktur, di mana perawat berpengalaman membimbing mahasiswa secara langsung di lahan praktik. Menurutnya, kualitas pembimbingan klinik sangat menentukan ketercapaian kompetensi mahasiswa sekaligus menjamin keselamatan pasien. Preseptor tidak hanya berperan sebagai pengawas praktik, tetapi juga sebagai role model profesional, fasilitator pembelajaran, dan penjaga mutu pelayanan kesehatan. Paparan ini menekankan pentingnya kompetensi klinik, kemampuan komunikasi, kepemimpinan, serta integritas profesional dalam peran preseptor.
Aspek komunikasi dan budaya belajar klinik menjadi fokus berikutnya. Dr. Maya Safitri menjelaskan bahwa umpan balik konstruktif merupakan inti dari pembelajaran klinik yang aman dan reflektif. Umpan balik harus berbasis observasi langsung, disampaikan tepat waktu, fokus pada perilaku, serta diakhiri dengan rencana tindak lanjut yang jelas. Ia menekankan bahwa praktik umpan balik yang tepat akan membentuk profesionalisme mahasiswa, meningkatkan kompetensi klinik, dan meminimalkan risiko keselamatan pasien.
Sementara itu, Dr. Atun Raudotul Ma’rifah menyoroti pentingnya integrasi komunikasi efektif dan asesmen bermakna dalam pembelajaran klinik. Menurutnya, asesmen tidak boleh dipahami sekadar sebagai pemberian nilai, melainkan sebagai alat pembinaan kompetensi yang adil dan berorientasi pada kinerja nyata mahasiswa. Preseptor dituntut mampu melakukan observasi langsung, memberikan koreksi edukatif, serta menanamkan etika profesi melalui interaksi sehari-hari di lahan praktik.
Isu evaluasi dan penilaian pembelajaran klinik dibahas secara komprehensif oleh Suci Khasanah. Ia memaparkan pendekatan penilaian berbasis kompetensi dan programmatic assessment yang menekankan pengumpulan bukti kinerja mahasiswa secara longitudinal melalui berbagai metode, seperti DOPS, Mini CEX, dan observasi terstruktur di tempat kerja. Pendekatan ini dinilai lebih mampu menjamin kesiapan praktik mandiri lulusan serta meningkatkan akuntabilitas institusi pendidikan kesehatan.

Rektor Universitas Harapan Bangsa, Assoc. Prof. Dr. Yuris Tri Naili, S.H., KN., M.H., menilai workshop ini sebagai langkah strategis dalam merespons dinamika transformasi pendidikan kesehatan nasional dan global. Ia menyatakan bahwa penguatan peran preseptor merupakan investasi jangka panjang untuk memastikan lulusan tenaga kesehatan memiliki kompetensi klinik yang aman, beretika, dan adaptif terhadap perubahan sistem layanan kesehatan. Menurutnya, pembelajaran klinik yang berkualitas akan berdampak langsung pada mutu pelayanan kesehatan masyarakat.
Ketua Panitia, Wasis Eko Kurniawan, S.Kep., Ns., MPH., menjelaskan bahwa workshop ini dirancang berbasis kebutuhan lapangan dan praktik nyata pembimbing klinik. Ia menekankan pentingnya keselarasan antara kurikulum kampus dan budaya belajar di wahana praktik agar mahasiswa memperoleh pengalaman klinik yang bermakna dan konsisten. Melalui kegiatan ini, diharapkan terbangun persepsi dan standar yang sama di antara para pembimbing klinik dalam mendampingi mahasiswa.

Secara lebih luas, penguatan peran preseptor dalam pembelajaran klinik sejalan dengan komitmen pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals Perserikatan Bangsa Bangsa, khususnya pada tujuan ketiga tentang kehidupan sehat dan kesejahteraan serta tujuan keempat mengenai pendidikan berkualitas. Pembelajaran klinik yang aman, berorientasi kompetensi, dan menjunjung etika profesional menjadi fondasi penting dalam menyiapkan tenaga kesehatan yang mampu berkontribusi pada sistem kesehatan yang berkelanjutan.
Workshop ini diharapkan menjadi titik awal penguatan kolaborasi berkelanjutan antara institusi pendidikan dan wahana praktik, sekaligus mendorong terbentuknya budaya pembelajaran klinik yang aman, reflektif, dan berorientasi mutu. Universitas Harapan Bangsa menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan kesehatan melalui pengembangan kapasitas dosen dan pembimbing klinik, demi melahirkan lulusan yang kompeten, profesional, dan bertanggung jawab terhadap keselamatan pasien dan masyarakat.