Universitas Harapan Bangsa (UHB) kembali menyelenggarakan Objective Structured Clinical Examination (OSCE) bagi mahasiswa Program Pendidikan Profesi Apoteker pada Selasa (30/12/2025). Kegiatan yang berlangsung di OSCE Center UHB ini diikuti oleh 40 mahasiswa angkatan kedua sebagai langkah strategis mematangkan kesiapan praktis sebelum menghadapi uji kompetensi nasional, sekaligus menjamin standar layanan farmasi di masa depan.
Ujian praktik ini dirancang secara komprehensif untuk mengukur kemampuan klinis mahasiswa secara objektif dan terstruktur. Seluruh peserta dihadapkan pada serangkaian stase yang menguji kompetensi inti apoteker, mulai dari teknis pembuatan sediaan farmasi yang presisi, mekanisme distribusi obat yang aman, hingga pelayanan sediaan farmasi langsung kepada pasien. Simulasi menyeluruh ini memastikan lulusan tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memiliki keterampilan teknis yang adaptif terhadap dinamika industri kesehatan.

Penyelenggaraan evaluasi klinis yang ketat ini selaras dengan upaya global dalam menjamin kehidupan yang sehat dan mendukung kesejahteraan bagi semua usia, sebagaimana tertuang dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin ketiga. Ketersediaan apoteker yang kompeten merupakan pilar utama dalam menciptakan akses kesehatan yang berkualitas dan merata bagi masyarakat.
Rektor UHB, Assoc. Prof. Dr. Yuris Tri Naili, S.H., KN., M.H., menilai pelaksanaan OSCE internal ini lebih dari sekadar simulasi ujian. Menurutnya, kegiatan ini adalah bentuk tanggung jawab institusi dalam mekanisme penjaminan mutu lulusan sebelum terjun ke masyarakat. Yuris menekankan bahwa integritas dan ketelitian yang dibangun melalui ujian ini akan berdampak langsung pada keselamatan pasien. Standarisasi kompetensi melalui OSCE menjadi bukti komitmen universitas dalam mencetak tenaga kesehatan yang mampu bersaing dan berkontribusi pada arsitektur kesehatan yang tangguh.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Program Pendidikan Profesi Apoteker UHB, apt. Galih Samodra, M.Farm, menyoroti aspek teknis pelaksanaan ujian. Galih menjelaskan bahwa kurikulum ujian kali ini sengaja diperketat untuk menyerupai atmosfer ujian nasional yang sesungguhnya. Ia menyebutkan bahwa setiap stase dirancang untuk memaksa mahasiswa berpikir kritis dan bertindak cepat dalam mengambil keputusan klinis. Hal ini dimaksudkan agar mahasiswa terbiasa dengan tekanan profesional dan mampu memberikan solusi farmasi yang tepat guna.
Melalui persiapan matang di tingkat internal ini, UHB optimistis angkatan kedua Program Pendidikan Profesi Apoteker dapat mencatatkan hasil maksimal pada uji kompetensi tingkat nasional. Lebih jauh lagi, lulusan diharapkan mampu menjadi garda terdepan pelayanan kesehatan yang etis dan profesional.